Selasa, 30 Juni 2009

ESENSI PENDIDIKAN BUDI PEKERTI BAGI PENCAPAIAN INTEGRITAS DAN JATI DIRI PESERTA DIDIK


ESENSI PENDIDIKAN BUDI PEKERTI BAGI PENCAPAIAN INTEGRITAS DAN JATI DIRI PESERTA DIDIK

Ditulis oleh : Ki Kecubung Wulung Pitutur Jati.

Proses pembelajaran dalam wadah formal dimulai tidak lama setelah munculnya masyarakat industri di Eropa sekitar abad 18 silam. Masyarakat Eropa saat itu beramai ramai memadati sekolah sekolah formal untuk mendapatkan pengetahuan dasar tentang tulis menulis dan administrasi agar segera dapat menyesuaikan diri dan diterima di dunia kerja yang mulai tumbuh seiring makin membesarnya kehidupan industri disana.

Di lihat dari sejarahnya, jelas sekolah bermula dari keinginan untuk mendapatkan pengetahuan tertentu saja untuk bekal mencari kerja. Disana hanya ada transfer pengetahuan (transfer of knowledge) dari pengajar ke murid yang diajar. Tapi perkembangan selanjutnya, sekolah bukan hanya tempat menimba pengetahuan, tetapi juga tempat pembentukan karakter manusia. Para ahli pendidikan dan Psikolog juga menyatakan bahkan bahwa watak dan tingkah laku manusia sangat ditentukan oleh lingkungan sekolah, disamping juga di pengaruhi linkungan keluarga dan lingkungan masyarakatnya.

Dari sudut pandang dan bahasa yang berbeda, Ian Robertson, seorang sosiolog dari University of California Los angels, menggambarkan bahwa dalam pengertian yang luas pendidikan (education) itu juga berarti sosialisasi (socialization). Ada tersirat dari pernyataan Robertson diatas bahwa sekolah bukan hanya tempat siswa belajar pengetahuan formal tapi juga tempat siswa menginternalisasikan nilai nilai, norma- norma sosial, moralitas, dan peraturan peraturan lain dalam dirinya untuk pembentukan dan pencarian jati dirinya.

Di negara kita Indonesia, bahkan telah berkembang anggapan bahwa dalam proses pembelajaran di sekolah itu ada dua proses yang berjalan simultan. Pertama adalah proses “pengajaran” dimana seorang guru mengajarkan dan mentransfer pengetahuan formal kepada para siswa sehingga siwa memiliki pengetahuan tertentu. Proses lain yang berjalan seiring adalah proses “pendidikan”, dimana seorang guru dituntut untuk mensosialisasikan nilai nilai dan norma norma sosial pada perserta didik. Sehingga seorang guru pun dianggap sangat bertanggung jawab untuk memberikan contoh yang baik tentang moralitas,. Oleh karena itu masyarakat menganggap orang terdidik bukan hanya orang yang pintar dengan pengetahuan yang banyak tetapi juga harus yang berkepribadian dengan tingkah laku yang sesuai dengan nilai nilai dan norma sosial.

Tak kurang Frans Magnis-Suseno, walau dengan bahasa yang berbeda, juga menengarai dua hal yang sama dari setiap upaya pendidikan, Untuk menggambarkan dua hasil pendidikan diatas Frans menggunakan istilah “perubahan”. Jadi menurut beliau pendidikan akan menghasilkan dua macam perubahan yaitu pertama penguasaan pengetahuan atau ketrampilan di bidang tertentu, kedua, sebetulnya mau tak mau mahasiswa sebagai manusiapun dibentuk oleh lembaga pendidikan kearah positif atau negatif.

Melihat bahwa pembentukan watak, karakter dan kepribadian manusia juga terjadi di lembaga lembaga pendidikan, maka pendidikan budi pekerti sangatlah diperlukan di semua perguruan tinggi dan lembaga lembaga pendidikan lain dibawah perguruan tinggi.

Dalam hal ini, kita memiliki setidaknya dua hal yang bisa kita berikan di setiap lembaga pendidikan. Pertama adalah pendidikan moral yang akan mendoktrinasi peserta didik tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan berdasarkan nilai nilai moral dan norma sosial lain. Kedua, kita juga bisa mengajarkan etika yang akan mengantar peserta didik untuk berfikir mandiri tentang apa dan kenapa satu hal boleh dilakukan sedangkan hal lain tak boleh dilakukan.

Untuk selanjutnya kedua ajaran itu tidak boleh begitu saja dihakimi yang satu lebih baik dari yang lain. Menurut hemat saya kedua jenis pendidikan itu perlu diajarkan dalam rangka pendidikan Budi Pekerti. Untuk tingkat pendidikan dasar dari Taman Kanak Kanak sampai dengan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas pendidikan moral lebih cocok untuk diterapkan, sebab para siswa perlu bimbingan untuk bertingkah laku. Pada tahap ini peserta didik masih belum mampu berfikir mandiri tentang baik dan buruknya suatu tindakan. Tetapi untuk mahasiswa di perguruan tinggi sudah tidak cocok lagi untuk diajari tentang dikotomi baik dan buruk. Mereka sudah harus berfikir sendiri tentang itu, oleh karena itu untuk mereka harus di berikan pelajaran etika, karena etika akan mengundang mahasiswa untuk berfikir tentang yang baik dan buruk dan mendapatkan alasan kenapa sesuatu itu baik dan kenapa yang lain buruk, dan tidak mengharuskan melakukan sesuatu seperti dalam pelajaran moral.

Etika hanya akan memberikan alat alat teoristis kepada mahasiswa untuk mencarikan alasan rasional terhadap ajaran ajaran moral yang mereka dapatkan sebelumnya. Pendek kata etika akan membantu mahasiswa mencapai kematangan intelektualitas yang akan membuat mahasiswa lebih kritis terhadap apa saja. Etika akan membantu mahasiswa untuk mengaktualisasikan dan mengintegrasikan seluruh pengalaman pengalamn hidupnya di dalam kepribadiannya. Mahasiswa akan dilatih untuk menjawab kenapa norma sosial tidak membolehkan atau membolehkan sesuatu untuk dilakukan. Dengan begitu mahasiswa akan lebih kritis dalam menanggapi segala tuntutan lingkungan yang bersifat normatif, dan mampu bersikap secara wajar terhadap hal tersebut.

Dengan begitu mahasiswa akan semakin pintar karna telah memiliki kematangan intelektualitas yang cukup. Dengan kematangan intelektualitas yang dipunya peserta didik akan lebih bersifat mandiri dan mendapatkan otonominya sebagai manusia. Mereka tidak akan mudah dipengaruhi institusi manapun diluar dirinya.

Kematangan intelektualitas mahasiswa akan memberi kemampuan pada dirinya untuk melepaskan diri dari dirinya sendiri, sehingga dia bisa melihat dirinya sebagai objek dirinya sendiri yang subjek. Dalam kondisi ini mahasiswa bisa menilai sendiri kecenderungan kecenderungan, dorongan – dorongan dalam dirinya sebagai baik atau buruk secara rasional, sehingga dia bisa menundukkan egoisitasnya dan mampu mendengarkan suara hatinya sendiri sebagai penunjuk jalannya. Dengan begitu pendidikan budi pekerti juga akan membantu peserta didik mendewasakan diri, sehingga mahasiswa akan memiliki kesadaran moral yang tinggi tentang hak – haknya dan kewjibannya sebagai individu di tengah masyarakatnya.

Selain itu pendidikan Budi Pekerti dengan landasan etika yang mantap akan menghantar mahasiswa menjadi individu yang mandiri. Bukan saja dia mampu mengendalikan dorongan dorongan egonya tapi dia bisa mempertanyakan seberapa jauh legitimasi lingkungan sekitar seperti lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan bahkan perundang undangan negara boleh menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dia lakukan. Sebagai pribadi yang mandiri, dia pertama sekali pasti akan mempertanyakan norma yang diharuskan untuk dia lakukan itu apakah bisa dipertanggung jawabkan secara nalar. Dengan begitu mahasiswa akan menjadi manusia yang punya jati diri, dia tidak akan begitu saja terhanyut mengikuti arus kehidupan dalam bermasyarakat.

Kalau mahasiswa telah sanggup menyaring seluruh tekanan, norma norma,dan nilai nilai yang datang dari luar dirinya, dan bahkan dia telah mampu menilai dorongan dorongan dari dalam dirinya sendiri sebagai dapat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, maka mahasiswa itu bisa dikatakan telah mencapai integritas pribadi yang utuh. Dia akan memiliki bukan saja tingkah laku, sopan santun dan kehalusan budi yang menawan tetapi juga kepercayaan diri yang luar biasa. Dialah prototipe manusia seutuhnya seperti yang dicita-citakan dalam pembangunan bangsa Indonesia sejak lama. Dan jenis manusia ini bisa kita ciptakan melalui pendidikan budi pekerti.

SEKSUALITAS


SEKSUALITAS

Oleh Ki Kecubung Wulung Pitutur Jati


Cerita Adam dan Hawa yang terusir dari surga lantaran makan buah terlarang sebenarnya adalah gambaran penggunaan seksualitas yang kebablasan. seksualitas yang terdiri dari libido, aurat (genital) dan dan daya rangsangnya (sex drive) diciptakan Tuhan sebagai sarana untuk menjaga keberlangsungan kehidupan. Artinya seksualitas adalah dasar eksistensi kehidupan, dan sama sekali bukan alat bermain dan bersenang senang seperti yang dilakukan Adam dan Hawa.

Selama seksualitas dipakai dalam upaya menjaga eksistensi kehidupan, seksualitas merupakan urusan rohaniah, karena seksualitas akan mencukupi kebutuhan batiniah manusia yang paling hakiki termasuk keyakinan akan ada kehidupan lagi msasa mendatang. Di sini jelas seksualitas adalah tugas suci bagi manusia. Sebaliknya kalau kita keluar rel dan menggunakan seksualitas untuk kesenangan berarti kita telah mendangkalkan urusan yang bersifat sakral ini menjadi sekedar urusan yang bersifat jasmaniah yang kotor.

Seperti sedikit telah disinggung diatas, seksualitas diciptakan Tuhan sebagai sarana pengejawantahan yang sangat intent dari dua kutup kehidupan, pria dan wanita, dalam dimensi lahiriah (kasunyatan). Wujud fisik dari perangkat seksualitas manusia merupakan sarana lahiriah bagi kebutuhan meng”ada”nya kebutuhan rohani manusia menjadi forma konkrit. Dengan kata lain alat alat genital manusia merupakan media badaniah bagi kebutuhan rohani untuk terpenuhi. Oleh karena itu aurat manusia itu sakral dan suci. Mungkin ini juga alasannya mengapa para muslimah tidak boleh telanjang didepan umum bahkan mereka harus pakai kerudung.

Tentunya sakralitas dan kesucian aurat ini tidak akan nampak kalau kita menghayati aurat sebagai substansi, karena dari sudut pandang ini tentu saja alat genital hanya sekedar bagian kecil dari organ tubuh kita, sama seperti tangan atau hidung yang kadang bisa amat kotor. Yang perlu kita lakukan disini adalah mencapai pengertian yang sempurna tentang hakekat dari aurat kita sebagai manifestasi badan rohaniah, sehingga kita hanya akan berani mempergunakan organ organ seksualitas diluar kontek pemenuhan kebutuhan kebutuhan suci batiniah yang berlandaskan cinta dan kasih. Di luar penggunaan ini seksualitas hanya akan jadi sarana pencapain hasrat duniawi,dan itu berarti pengkhianatan terhadap unsur unsur rohaniah pada diri kita sendiri.

Pada kenyataannya seperti nenek moyangnya anak anak Adam telah keliru lagi dalam penggunaan seksualitasnya. Mereka membelokkan fungsi fungsi rohaniah seksualitas untuk mereguk kenikmatan dan kepentingan badaniah. Tanpa sadar mereka mengulang kembali kesalahan Adam. Manusia telanjang lagi dan dosa lagi. Cuma bedanya Adam dahulu merasa malu tetapi manusia kini tak tahu malu.

Perkembangan selanjutnya makin menyedihkan, karena seksualitas kini telah menjadi industri raksasa. Tidak perlu iklan dan sama sekali tak butuh manager pemasaran bisnis ini berjalan sangat lancar. Pelaku bisnis ini sama sekali tak perlu menghitung kapan mencapai break event point, karena sudah pasti untung. Industri seks saat ini adalah bisnis yang beromset milyaran rupiah sehari.

Dunia ini tergelar seperti pasar raksasa bagi bisnis ini. Dimana pun dijual pasti laku. Bisnis inipun kenal differensiasi produk. Pelacur pelacur dari berbagai kelas adalah adalah pramuniaga dari toko toko rental alat genital. Penari penari erotis merupakan pemandu wisata dari biro perjalan tamasya jiwa. Gambar, foto dan video porno juga merupakan obyek khayalan yang laris manis terjual.

Dan (maaf) para artis yg suka pamer aurat sadar atau tidak adalah komoditi dan sekaligus selles girl dari bisnis ini. Ini sama sekali tak ada hubungan dengan kesenian. Ini adalah wujud nyata dari pengingkaran dari roh seksualitas dan eksistensi kemanusian.

PUASA (Di alam pikiran orang Jawa)


PUASA

(Di alam pikiran orang Jawa)

Ditulis oleh : Ki Kecubung Wulung Pitutur Jati

Bagi orang Jawa hidup yang bahagia itu bisa dicapai dengan mengharmoniskan dari dua kutup yang senantiasa melingkupi kehidupan setiap manusia. Walaupun agak klise tapi pada kenyataannya orang Jawa sangat meyakini bahwa di alam yang profan ini manusia terlahir dengan membawa dua kehidupan baik kehidupan bathiniah yang di kendalikan rasa (bathin) maupun kehidupan lahiriah yang di kendalikan oleh nepsu (nafsu) dan angkara.

Kepercayaan ini tercermin pada ajaran mistis Jawa yang amat terrkenal dengan sebutan sedulur papat kalimo pancer (saudara empat dan yang kelima pusatnya). Empat saudara yang di maksud adalah empat anasir (zat) pembentuk jasad manusia yaitu: air api, tanah, dan angin. Ke empat zat pembentuk jasad manusia itu juga melambangkan empat nafsu besar yang mengendalikan hidup manusia . Api adalah manifestasi dari nafsu amarah (marah), tanah adalah lambang kerakusan napsu luamah (makan), air mengendalikan nafsu supiah (nafsu sex) dan yang terakhir angin menegendalikan nafsu mutmainah (nafsu untuk berbuiat baik).

Ke empat nafsu yang merupakan pengejawantahan dari empat unsur dasar pembuat jasad manusia ini sepenuhnya mengendalikan kehidupan lahiriah manusia. Sedangkan si- pancer (pusat) saudara kelima dari manusia di yakini sebagai sejating aku (super ego) yang berasal dari Tuhan. Manusia tidak akan berbeda dengan binatang tanpa saudaranya yang kelima ini Karena saudara kelima ini adalah roh dari yang Maha Kuasa Orang jawa menyebutnya sebagai sukma sejati atau sejatining sukma atau rasa sejati. Karena dia adalah utusan Tuhan yang besifat suci baik dan benar, maka sukma sejati inilah yang mengendalikan kehidupan bathiniah manusia. Sukma sejati ini pula lah yang membangkitkan segala macam perasaan hati untuk menggambarkan kondisi kebathinan manusia dan juga suara hati yang selalu mengajak ke jalan kebaikan setiap kali manusia kilaf dan berada di jalan yang sesat.

Untuk mencapai kasampurnaning ngaurip ( kesempurnaan hidup) manusia harus menyeimbangkan dan menyelaraskan kedua kehidupan yang secara alamiah telah built in didalam kehidupan manusia itu. Bagi manusia kebanyakan kehidupan lahiriah atau duniawi yang di kendalikan oleh keempat nafsu diatas cenderung menggeser proporsi kehidupan batiniah yang di kendalikan oleh rasa sejati, sehingga tidak ada keseimbangan lahir bathin dalam diri manusia. Ketidakseimbangan antara kehidupan lahir dan bathin manusia, pada akhirnya hanaya akan menghasilkan ketidak tentraman hidup, was was, ketakutan dan berujung pada ketidakbahagiaan. Pada setadium yang parah, kalau keempat nafsu itu bisa menggilas dan mengeliminir rasa sejati, manusia akan kehilangan kemanuisaannya (ilang kamanungsane) dia takkan berbeda lagi dengan binatang, dia akan mengumbar nafsu angkaranya di mana saja. Dalam keyakinan Jawa, orang yang hidup seperti ini juga tak kan merasa bahagia, kehidupan jadi kering, jiwanya kerontang, ibararat orang haus dia tak akan pernah bisa terobati dengan seberapa banyak airpun yang dia minum. Dia akan jadi rakus dan tak pernah puas dengan yang banyak sekalipun.

Keyakinan Jawa mengajarkan untuk menyeimbangkan antara dua kehidupan tersebut agar manusia bisa hidup bahagia. Meper hawa nafsu (menegendalikan nafsu) adalah satu satunya cara agar kehidupan manusia tidak di dominasi kehendak nafsu yang akan melempar manusia ke kehidupan lahiriah yang serba megah tapi kering bathinya dan tumpul perasaannya. Puasa telah lama diyakini orang Jawa sebagai salah satu cara mengendalikan nafsu angkara murka. Karena puasa bisa menegendalikan nafsu nafsu rendah manusia. Selain itu puasa sangat di yakini oleh orang jawa bisa memepertajam kemampuan bathin manusia, karena bathin yang diajak puasa akan semakin hidup, bathin akan semakin peka terhadap kondisi lingkungan dan dan akan mampu merasakan penderitaan orang lain. Sehingga manusia akan memiliki tepo sliro dan akan mampu membuang semua aji mumpung. Dia tak akan pernah merugikan orang lain tapi malah akan besar keinginannya untuk menolong. Semakin tinggi tarap kehidupan bathiniah manusia semakin besar kemampuan bathin itu dalam segala hal, termasuk semakin peka terhadap hal hal yang bersifat gaib dan supranatural. Gambaran keyakinan ini bisa kita cermati dari tembang kinanthi (salah satu nama tembang) peninggalan leluhur orang jawa dibawah ini:

Podho gulangening kalbu, ing sasmito amrih lantip, ojo pijer mangan nendro, kapraweiran den kaesthi, pesunen sariraniro, cegahen dahar lan guling. Artinya ( pelajari dan tumbuhkan dalam hatimu, agar tajam kemampuan bathinmu, jangan hanya makan dan tidur, ketangguhan (bathin) harus dicari, paksalah dirimu, mencegah makan dan tidur.

Dari tembang di atas jelas bahwa puasa bagi orang Jawa bukan hanya sekedar tidak makan dan tidak minum, tetepi puasa adalah upaya untuk untuk menghidupkan bathin, untuk menyeimbangakan dengan kehidupan lahiriahnya sehingga tercapai kehidupan yang bahagia. Selain itu tembang di atas merefleksikan juga bahwa puasa bisa menggangkat derajat kehidupan manusia ketingkat yang paling tinggi.

Di alam kebathinan Jawa ada digolongkan tiga tingkat kehidupan yang dimiliki manusia: Pertama adalah tingkatan jono loka .Dalam dunia pewayangan Jonoloka adalah nama seorang cantrik (murid seorang begawan di pertapaan) dan ini adalah tingkatan hidup manusia yang paling rendah karena segala tindak tanduknya dalam hidup bermasyrakat masih sangat di kendalikan nafsu nafsu hewani. Maka dia digambarkan sebagai seorang cantrik karena dia harus masih banyak belajar tentang hidup dan kehidupan ini. Orang Jawa menggambarkan kehidupan manusia golongan jonoloka ini berada di alat kelamin manusia. Artinya pusat kehidupan manusia jenis ini masih berada di daerah vital itu. Dia hidup dari tempat itu dan hidup untuk tempat itu juga. Nafsu adalh satu satunya sumber dan orientasi hidupnya. Tidak lebih dan tidak kurang.

Maka tembang di atas mengajak manusia berpuasa untuk nggegulang kalbu (melatih batin) agar kehidupan manusia bisa naik derajat ke tingkatan kedua, yaitu tingkatan indraloka. Seperti yang kita ketahui di jagad pewayangan Bathara Indra itu adalah salah satu dewa di khayangan ngondar andir bawana. Orang Jawa yakin puasa yang benar bisa memepertajam bathin dan perasaan manusia. Manusia yang bisa olah rasa (menggunkan perasaan dan kata hatinya dalam bertindak) adalah manusia yang punya derajat dan martabat yang tinggi, karena dia sudah terlepas dari jeratan nafsu angkara. Maka dia digambarkan berada sederajat dengan Bathara Indra. Dalam diri manusia orang yang sudah peka bathinnya seperti ini sudah mengalihkan pusat hidupnya dari alat kelamin ke tempat yang lebih terhormat yaitu di dalam hati (indra). Orang seperti ini sudah terlepas dari sifat sifat buruk seperti iri dengki, bakhil, culas dan lain sebagainya. Tingkatan ini sangat diyakini oleh orang Jawa hanya bisa dicapai kalau manusia mau mengurangi nafsunya dengan jalan mencegah dahar lan guling (makan dan tidur) seperti tersurat dalam tembang di atas.

Selebihnya tembang kinanthi di atas juga menyiratkan bahwa puasa juga akan mengantar manusia pada penggunaan akal pikiran ( ing sasmitho amrih lantip). Penggunaan rasa dan perasaan dalam bertindak masih dimungkinkan membuat kesalahan dalam kehidupan, untuk itu orang jawa wajib juga menggunakan pikiran dalam menjalani roda kehidupan. Di sinilah letak perbedaan filsafat barat dan filsafat Jawa. Filsafat barat mengandalkan otak semata untuk berfikir dan memutuskan sesuatu tapi orang jawa mengharuskan orang melatih perasaannya dulu baru nanti mengasah logikanya. Orang jawa meyakini kepandaian kalau tidak berlandaskan perasaan dan kehidupan bathin yang suci, cuma akan dikendalikan nafsu yang termanifestasi dari saudara kita yang empat diatas. Kepandaian di sini tidak akan membawa kebahagian bagi kehidupan tapi hanya kan memebawa bencana bagi kehidupan manusia. Hal ini terbukti nyata kepandain dan tehnologi barat yang nota bene produk par excellent dari otak banyak di yakini merusak lingkungan, peradapan dan bahkan menghilangkan rasa kemanusiaan manusia. (dehumanisasi).

Masih menurut orang Jawa, bila manusia bisa menegendalikan pikirannya dengan roso (perasaan)-nya, maka dia adalah manusia yang bisa njumbuhake roso (mengaktualisasikan perasaan dalam tindakan) dan dialah manusia yang paling sempurna sebagai manusia. Dia berada ditingkatan yang tertinggi yaitu tingkatan guruloka. Guru loka adalah tempat bersemayamnya Bathara Guru, rajanya para dewa di khayangan dalam cerita wayang. Dan inilah puncak tertinggi pencapaian orang yang mau mencegah dahar lan guling (puasa) dalam dataran pikiran Jawa. Pada tingkatan ini manusia sudah mengalihkan pusat hidupnya bukan didada lagi tapi sudah di otak atau pikiran dan letaknya di kepala mausia. Manusia inilah yang oleh orang Jawa di sebut sebagai orang yang wis jowo (mengerti tentang kehidupan)

Derajat manusia tertinggi dalam khasanah budaya jawa adalah seorang raja. Dan puasa sangat di harapkan oleh semua orang Jawa untuk bisa membawanya menggapai kedudukan terhormat itu, bukan dalam arti denotatif tapi yang konotatif. Seperti kita ketahui tempat duduknya raja jawa adalah sitinggil binaturoto, atau panjangnya adalah siti inggil binatu roto. Artinya tanah tinggi yang tertata baik dengan batu. Manusia adalah tanah itu karna kita terbuat dari saripati tanah, supaya kita inggil (tinggi martabatnya sebagai manusia) harus ditata yang rapi. Artinya kita harus membenahi kualitas kehidupan kita. Dengan apa? ya dengan batu (binatu roto). Batu adalah sebuah benda yang sangat berat dan keras, dan batu dalam kehidupan mistis jawa adalah nglakoni (puasa) itu.